HAMLET
Oleh: Annida Shafa Hanifa
Amabell menarik cangkir kopinya. Meneguknya dengan nikmat,
lalu mendesah pelan. Ia menikmati senja ini. Langit biru dengan gradasi jingga
yang membaur membentuk warna baru, ungu kemerahan.
“Hey, Mabel! How’s
life?” sapa suara familiar seseorang.
Amabell berhenti menatap pintu kaca ruang makan lalu menatap
wanita yang menyapanya. Ia Kiara Asseanah Yulian, seorang illustrator sekaligus komikus berumur 24 tahun yang tinggal di
rumah kos yang sama dengan Amabell. Amabell tersenyum simpul menatap wajah
wanita itu.
“Oh, Kiara. Nothing
better than this! Look! That is sunset, right?” seru Amabell sambil
menunjuk matahari yang tenggelam,”and,
look. The coffee makes the view look so flawless. Oh, God, this is amazing
right?” seru Amabell girang.
Kiara terkekeh melihat sahabatnya yang masih berumur 22 tahun
itu. “Amazing, amazing, mulu, grammar- mu fix dulu sana,” ujar Kiara yang melangkah pelan dari tangga. Hal
itu tentu saja dibantah keras dengan Amabell.
“I’m trying!” seru
Amabell. Kiara kembali terkekeh lalu ikut duduk di seberang kursi meja makan
yang ditempati Amabell. Kiara meletakkan buku yang dari tadi ia bawa ke atas
meja lalu menyandarkan tubuhnya dengan kursi. Amabell menatap cover buku yang Kiara bawa tadi lekat-lekat.
Amabell - yang notabene seorang pecinta membaca – terlihat tertarik dengan buku
yang dibawa Kiara.
Sebuah gambar tengkorak putih yang dibawa seseorang yang
memakai sarung tangan hitam dengan latar belakang warna putih keabu-abuan. Judulnya ‘Hamlet’. Buatan William
Shakespeare? Keren!, batin Amabell dalam hati. Kiara tertawa melihat
tingkah laku Amabell.
“Kiara! Kamu dapet ini dari mana?” seru Amabell dengan
tatapan berbinar.
“Hehe, kamu penasaran, ya... yah, nggak ada buku yang nggak
bisa kudapat, sih, hohoho..,” ujar Kiara, segera membuat Amabell mendecih
kesal. Merasa ada aura tak enak, Kiara menatap Amabell dan terbukti, aura itu
bereaksi.
“Oke! Kamu nggak dapet makan malam, Kiara!” seru Amabell yang
sontak membuat Kiara tertohok kaget.
“H-hah? A-aku... ng-nggak d-dapet... ma-makan malam?!” seru
Kiara. Amabell menatap wajah Kiara dengan tatapan ‘nggak-peduli-kamu-mau-ngapain-yang-jelas-nggak-ada-makan-malam’. Tatapan
Amabell dipahami dengan baik oleh Kiara yang akhirnya meraung-raung tidak
jelas.
“Udah-udah, jangan berantem mulu. Aku capek denger kalian
rame. Ngganggu tidurku tau gak?” ujar seseorang yang langsung membuat duo
berantem itu langsung diam. Hanya dengan tatapannya, Kiara dan Amabell langsung
menciut.
Bagi mereka, dimarahi Kak Anneis merupakan suatu
pemberitahuan. ‘Pemberitahuan Kematian’, katanya. Mereka biasa dimarahi sampai
3 jam non-stop dengan catatan tidak
ada makan malam dan sarapan, kulkas terkunci tanpa ada yang boleh membuka, lalu
wifi di kos dikunci dengan password yang rumit.
Amabell tersenyum pucat menatap Anneis, sedangkan Anneis
balas menatapnya sengit. Amabell spontan mendapat ide. Ia mengambil buku
‘Hamlet’ Kiara lalu menunjukkannya kepada Anneis.
“Kak, Kiara bawa buku ini. Kakak mau baca?” tanya Amabell
gugup. Ia berharap, semoga saja cara ini berhasil.
Anneis mengernyit sebentar lalu melihat sampul buku ‘Hamlet’.
Merasa tertarik, Anneis meletakkan ponsel yang selalu ia bawa ke atas meja. Ia
mengambil buku itu dari tangan Amabell lalu membolak-balikkan halamannya
sebentar.
“Bagus.., kan?” tanya Kiara pelan-pelan, ia takut Anneis
masih marah. “Bukunya kayanya bagus! Sumpah,” sahut Anneis antusias. Amabell
dan Kiara segera mengelus dada, tenang. Lalu ber- tos ria karena rencana mereka
berhasil.
“Hamlet.., ya?
Rasanya Kakak pernah dengar tentang buku ini,” ujar Anneis, sambil mengelus
dagunya. Ia menarik kursi diantara Amabell dan Kiara lalu duduk diatasnya.
“Ah, itu buku William Shakespeare, jelas terkenal, kan?
Ceritanya juga bagus, sungguh dramatis dan penuh konflik! Aku pernah mencari
sinopsisnya di Google. Mau dengar?” ujar Kiara.
Amabell dan Anneis mengangguk.
“Kalau begitu, kuberitahu...”
**
“Hamlet, adalah seorang pangeran di Negara Denmark. Ayahnya
baru saja meninggal dan akhirnya, Pamannya, Claudius naik takhta. Setelah
menjadi raja, Claudius menikahi ibu Hamlet, Gertrude, dan membuat Hamlet merasa
sangat sedih sekaligus kecewa.
“Di saat yang sama, beberapa teman Hamlet mengaku telah
melihat arwah seseorang yang mengaku dirinya Ayah Hamlet. Hingga akhirnya,
Hamlet melihat arwah ini. Arwah yang mengaku ayahnya ini mengatakan untuk
membalas dendam kepada Claudius, Pamannya, karena dianggap telah membunuhnya.
Merasa marah luar biasa, Hamlet pun menjalankan dendam yang diperintahkan arwah
ayahnya. Ia pun berpura-pura gila agar dapat menjebak Claudius,”
Kiara menarik nafas panjang. Berdeham, lalu melanjutkan
ceritanya.
“Lalu, Hamlet pun mengundang beberapa aktor untuk mementaskan
cerita yang ia tulis sendiri. Hamlet menuliskan cerita tentang seseorang yang
membunuh seorang raja dengan memasukkan racun ke dalam lubang telinga sang
raja. Saat dipentaskan, Claudius yang menonton pementasan ini merasa bersalah.
Ia merasa sedih hingga akhirnya ia pergi sebelum pementasan berakhir.
“Suatu hari, Hamlet bertanya kepada Gertrude tentang kematian
ayahnya. Gertrude menolak menjawab dan tidak ingin mengaku kepada Hamlet.
Hamlet merasa sangat marah pada Gertrude. Dibutakan rasa marahnya pada
Gertrude, ia ingin melampiaskannya. Lalu, ia melihat seseorang di balik tirai.
Ia pun menusuknya. Ternyata, orang yang ditusuknya adalah penasehat Claudius,
Polonius. Polonius memiliki 2 anak, yaitu Laertes dan Ophelia. Saat berkabung, Ophelia
mengetahui kalau Hamletlah yang telah membunuh ayahnya. Ophelia mencintai
Hamlet. Sehingga, saat ia mengetahui hal itu, Ophelia menjadi gila lalu
tenggelam di sungai,”
Saat hendak melanjutkan ceritanya, Anneis menunjukkan telapak
tangannya, menyuruh Kiara menghentikan ceritanya.
“Bell, minta kopinya?” pinta Anneis. Amabell menyerahkan
kopinya kepada Anneis tanpa mengalihkan pandangan dari Kiara. Setelah meminum
seteguk, Anneis meletakkan kopi Amabell.
“Mabell, aku juga minta, ya?” pinta Kiara.
“Nggak. Kamu mah,
nggak boleh, kalau Kak Anneis, mah,
boleh aja,” ujar Amabell. Sukses membuat Kiara ingin melayangkan jitakan ke
atas kepala Amabell.
“Udah, diem gak?” seketika Amabell dan Kiara terdiam. “Kiara,
lanjutin!” perintah siapa lagi kalau bukan Anneis?
Kiara berdeham. “Kulanjutkan,”
“Setelah Ophelia dan Polonius mati, eh, maksudnya meninggal
dunia, Claudius menyuruh Hamlet untuk belajar di Inggris yang sebenarnya tujuan
Caludius adalah hanya untuk mengusir Hamlet dari Denmark.
“Mengetahui hal ini, Hamlet dan sahabat karibnya, Horatio,
kabur dari kapal menuju Inggris dan kembali menuju Denmark. Sesampainya di Denmark,
Hamlet melihat prosesi pemakaman Ophelia. Ia merasa sangat sedih, lalu, ia
melompat memasuki liang kubur Ophelia. Laertes yang melihat hal ini murka dan
ingin membalaskan dendam ayahnya, Polonius dan saudarinya, Ophelia. Ia pun
mengajak Hamlet untuk duel pedang.
“Sebelum duel, pedang Laertes telah diberi racun oleh Claudius. Anggur milik Hamlet pun
sudah diberi racun olehnya. Saat putaran pertama, Hamlet berhasil menang
melawan Laertes. Lalu Gertrude meminum anggur Hamlet untuk menyemangati Hamlet.
Saat di putaran selanjutnya, serangan Laertes berhasil mengenai Hamlet. Namun,
Hamlet berhasil bertukar pedang dengan Laertes dan melukai Laertes dengan
pedang racunnya. Sebelum ajalnya, Laertes mengaku bahwa ia bersekongkol dengan
Claudius. Hamlet pun membunuh Claudius dengan pedang beracun itu. Pada
akhirnya, Gertrude dan Hamlet pun mati karena racun yang sama. Selesai,” ujar
Kiara.
Amabell bergidik ngeri. “Mengerikan sekali. Penuh dengan
konflik yang rumit sekali. Dan pada akhirnya, semua tokoh itu mati. Semua itu
berawal dari perebutan kekuasaan. Aku yakin, Claudius membunuh Ayah Hamlet demi
takhta raja. Ia pasti menyewa pembunuh bayaran atau mungkin membunuh dengan
tangannya sendiri. Yang jelas hanya demi takhta. Itu sedikit mengingatkanku
dengan Indonesia,” ujar Amabell sambil mengusap dagunya.
Kiara mengangguk. “Perebutan kekuasaan, suap, dan korupsi. Pejabat
Indonesia banget, kan? Gitu tuh, contoh orang-orang yang nggak mengamalkan
pancasila. Mereka nggak adil dengan satu sama lain. Selain itu, mereka juga
nggak mengamalkan ‘Bhineka Tunggal Ika’. Mereka membeda-bedakan orang lain
berdasarkan kasta, kekuasaan, dan uang. Padahal, pegawai pemerintahan
seharusnya bekerja untuk rakyat, malah rakyat yang direndahin. Rakyat paling
tinggi kedudukannya, secara..,” ungkap Kiara, sedikit kesal.
Anneis terdiam. Tak menanggapi kedua sahabat sekaligus
adiknya yang asik berdiskusi tentang pemerintahan, dasar negara, bahkan
semboyan negara. Ia hanya sibuk melamun, memikirkan sesuatu.
“Nggak hanya itu Kiara. Mereka nggak mengamalkan ‘Bhineka
Tunggal Ika’ itu nggak karena kasta, kekuasaan, sama uang aja. Buktinya, ada
juga kasus tentang agama yang menghina agama lainnya. Kamu inget nggak? Itu kan
booming banget tahun.. 2017, ya?
Kalau nggak salah, sih. Pokoknya, masalah perbedaan ini yang kayanya parah
banget. Tapi, kita kan cuma warga biasa. Bisa apa kita?” ujar Amabell.
“Bener tuh, Bell. Eh, Kak? Kakak?” Kiara yang baru saja
menyadari kalau Anneis sedari tadi terdiam memanggil Anneis.
Bagai balon sabun yang pecah bila disentuh, lamunan Anneis
seketika pecah ketika ia merasakan sentuhan di pundaknya. Kiara yang memanggil.
“E-eh, ada apa?” tanya Anneis bingung.
“Aduh, Kak Anneis, sih, pake ngelamun segala,” tutur Amabell.
“Itu tuh, HP- nya bunyi!”
Anneis yang baru saja tersadar dari lamunannya merasa
linglung sesaat lalu menyadari bahwa ponselnya sedari tadi berbunyi. Ia melihat
siapa yang menelpon. Unknown number.
Anneis mengetahui siapa yang menelponnya. Ia menarik kursinya
lalu undur diri. “Sorry, aku ke kamar
bentar. Ada yang telepon.”
Amabell dan Kiara yang tidak merasa curiga apa-apa mengangguk
membiarkan Anneis menjawab teleponnya di kamar. Mereka melanjutkan perbincangan
mereka tanpa Anneis.
“Oh, ya, Kak Anneis itu kan kerja di pemerintahan. Jadi apa,
ya?” gumam Amabell.
Kiara menjawab, “Kalau nggak salah bukannya SekDa, ya?
Jabatannya tinggi seingetku,” tutur Kiara. Amabell mengangguk paham.
“Semoga, Kak Anneis selalu jujur dalam menjalankan
pekerjaannya...”
**
Anneis masuk ke dalam kamarnya. Memastikan tidak ada orang di
luar, ia masuk mengunci pintunya.
“Halo?” jawab Anneis.
“Halo? Dengan Nona Anneis?” jawab
suara di telepon. “Ya, dengan saya sendiri. Ada apa?” jawab Anneis sambil
menarik kursi meja kerjanya lalu duduk.
“Saya Herman. Nona Anneis,
dokumen palsunya sudah selesai. Bisa kirimkan uangnya sekarang?”
Anneis menyalakan lampu mejanya. Ia mengambil beberapa berkas
lalu melihatnya.
“Oh, ya. Sekarang saya kirim. 10 juta cukup kan?” ujar
Anneis.
“Maaf, saya minta lebih.
Dokumen ini sangat sulit membuatnya. Saya rasa 10 juta tak cukup.” Jawab
si penelepon.
“Kalau begitu saya kabari nanti. Saya hubungi atasan saya,”
Anneis lalu mematikan panggilannya. Menekan salah satu nomor lalu ponselnya
membunyikan nada tunggu. Tak lama kemudian, sebuah suara menjawab.
“Halo?”
“Saya Anneis, Pak. Maaf mengganggu waktu Anda. Pak Herman
minta lebih, saya beri berapa?”
“Beri saja 15 juta. Kalau
menolak, 20 juta. Tambahkan 5 juta bila ia menolak lagi. saya beri limit 30
juta. Jika masih meminta lebih, kita putuskan hubungan dengan dia.”
“Baiklah, Pak. Tapi, bukankah 15 juta terlalu banyak untuk
orang rendahan seperti mereka?” tutur Anneis dingin. Suara jawaban tawa
terdengar dari ponsel Anneis. “Suap saja,
Anneis. Jangan sampai dia bicara tentang hal ini pada publik.”
Anneis mengangguk paham. “Saya paham, Pak. Sekali lagi maaf
menganggu waktu Anda,” ucapnya, lalu mematikan ponselnya. Ia mendesah berat.
Kapan aku bisa pergi dari
pekerjaan iblis ini?, batin Anneis. Tak terasa, setetes
air mata mengalir di pipinya.
**
Seperti Claudius yang
membunuh kakaknya demi takhta dan uang. Seperti Anneis yang menyuap demi uang
dan jabatan. Seperti Halmet yang dibutakan oleh kemarahan. Seperti Anneis yang
dibutakan oleh ketamakan.
Tidakkah dunia ini penuh
dengan kepalsuan, kerusakan, dan ketidakadilan? Mungkin saat ini, kita bisa
melihat para pemimpin menebar janji, dengan keyakinan tinggi menunjukkan bahwa
semua ‘kan berjalan baik-baik saja, dan akan lebih baik ke depannya.
Lantas, kemanakah semua
janji itu?
(c) for the art owner
(c) for the art owner
0 comments:
Post a Comment